Can The Phone Be Reinvented? -
In short, how about a smartphone that, through some gestalt trick of the sum of all its interactive apps, actually engages with you, instead of merely delivering data in an endless stream on its glowing screen?
In other words: crap is crap, even at high resolution. But the subtle stuff gets a better chance of being appreciated.
— erik spiekermann (@espiekermann) March 17, 2012
If you get there before I do, don’t give up on me. I’ll meet you when my chores are through. I don’t know how long I’ll be. But I’m not gonna let you down. Darling, wait and see. And between now and then, til I see you again, I’ll be loving you. #Love, Me. — [blog orang]
Seandainya saya menjadi Anggota DPD RI. Hmmm, kalo gw googling dan ngeliat entry peserta lain itu rasanya beraaaat banget. Meningkatkan kesejahteraan rakyat lah, menekan angka pengangguran lah, mendengarkan aspirasi rakyat terpencil lah, memboikot Saipul Jamil tampil bareng Ayu Ting Ting lah (okay, I made up this one), etc etc. Ide mereka bagus-bagus, tapi rasanya abstrak banget buat otak awam seorang gw ini. Rasanya “jauh” dan “very textbookish” aja. Gak jelek lho, bagus banget malah.
Ide gw sih sederhana aja ya. Kalo gw jadi anggota DPD, gw usulin tuh semua anggota DPD ganti plat mobil dinas mereka pake nomor khusus. Entah gimana caranya, usul ini HARUS disetujui sama semua anggota. Yang nggak setuju, DOR.
Misal nih, plat mobil dinas jadi B 001 DPD, B 002 DPD, dst. Trus dibikin database plat nomor dan nama anggota DPD yang bersangkutan, lalu database ini diunggah ke website DPD RI dan bisa diakses sama publik. Trivial banget ya bowk kedengerannya? Buat apa sih?
Jadi gini, pejabat negara itu kan biasanya dapet privilege kalo make jalan raya. Masih inget dong kasus mobil menteri yang nyerobot masuk jalur busway taon kemaren trus heboh jadi headline dan perbincangan di ranah social media? Ini bukan privilege, tapi mungkin si menteri lagi buru-buru rapat penting, kalo telat dia dipecat, trus terkesan meng-abuse privilege kayak gini. Supaya kejadian kayak gini nggak terulang lagi, gw pikir perlu sebuah social control yang lebih bagus dari publik. Plat nomor khusus bakal bikin anggota DPD lebih berhati-hati dalam bersikap di jalan raya. Kalo ada yang nyelonong ke jalur busway ato nabrak lari, rakyat tinggal buka web DPD, trus rame-rame datengin rumah yang bersangkutan sambil nglemparin tomat *ya gak gini-gini amat sih*. Mereka (harusnya) mikir dua-tiga kali sebelum bikin huru-hara di jalan lalu citranya rusak. Intinya, a more rigid social control.
Itu yang pertama. Yang kedua, channel penyaluran aspirasi rakyat. Bagus lah kalo selama ini mereka dinas ke daerah terpencil buat dengerin suara rakyat (asal dengerin beneran ya, Pak!). Buka channel di social media? Monggo. 374 entry di blog lain pasti udah nyinggung soal “mendengarkan rakyat melalui social media” ini, gak akan gw bahas.
Yang gw amati nih ya, dalam dua tahun terakhir di kalangan urban Jakarta ini kayaknya berkembang banget ya yang namanya insight-sharing talkshow. Itu lho, orang-orang ngumpul trus ada yang presentasi topik spesifik di depan, ato bentuknya bisa juga diskusi gitu. Dari TEDx, Pecha Kucha, event-event di atamerica, FreSh, sampe yang paling rutin Obsat. Acara ini semua bagus banget buat nambah wawasan sekaligus networking. Kenapa anggota DPD gak mencoba untuk hadir di situ. Presentasiin apa gitu lah, kinerja selama ini, program yang sedang berjalan, liburan jalan-jalan kemana aja (stop that, Molly!), etc. Event-event kayak gini juga gw rasa jadi tempat yang bagus buat dengerin uneg-uneg rakyat kelas menengah ke atas yang notabene fairly well-educated dan aware of latest issues. Gw liat banyak orang yang concern ke masa depan bangsa ini, pasti mereka juga antusias banget kalo ada wakil rakyat yang mau dengerin aspirasi mereka langsung.
Susu HiLo is currently running ”HiLo Green Ambassador”, a modelling competition for the youths to inspire people the importance of (well, you already expect this, minions) living green. 10 boys and 10 girls are killing one another working hard to win the title. The grand final will be aired on Sunday (Jul 24, TRANS7). You can find the details here or here—I’m saving my bandwidth, btw. And oh, I won’t give comments on those 10 guys, somebody elsewhere may be willing to do it. I’m just not good at judging my own kind.
Time to define beauty, people! Ready. Set. Go.

Beautiful as a noble woman who just turned down a noble man with “bikinin dulu seribu candi”.

Beautiful as a goddess who is worshiping the goddess of sun.

Beautiful as a goddess who is worshiping the goddess of rain. Ayu, you should have killed anyone responsible for this pose.

Beautiful as a tourism ambassador welcoming you to Jakarta. “Fauzi Bowo had me doing this,” she whispers herself.

Beautiful as…….. “TETOOOT! I can do magic!”. Nandha, you can join Ayu for a bloody revenge.

Beautiful as a sagittarian who love travelling so much and killing the foxes along her way.

Beautiful as somebody on SHAFIRA billboard. A very pretty pose, it is.

Beautiful as a noble woman who is greeting you “Mohon maaf lahir dan batin”. The director or stylist might be running out of ideas when handling her.

Beautiful as a goddess of hunt and wildlife and massacre and war. Very fierce, yet too bad somebody forgot to clean up his expensive lens.

Beautiful as a tourism ambassador welcoming you to Moluccas. “Somebody I barely know had me doing this,” she whispers herself. NEXT!

Beautiful as the goddess of mermaid. “Are you dying to see my $100,000 necklace?”

Beautiful as another goddess of hunt in Forever21. You’ve got drop-dead gorgeous jaw structure, Rizka.

Beautiful as……………………………………… a very beautiful girl suffering from a long-distance relationship.

Beautiful as………………………….. a very beautiful girl who just dumps her boyfriend with a “so sorry, Joko Tarub, you’re mortal and I’m ascending”.

Beautiful as an innocent girl longing for her first love in the kindergarten.

Beautiful as an innocent girl longing for a python.

Beautiful as an innocent girl who was freaking hungry, ate too many apples and then overslept.

Beautiful as a girl in a prewedding photoshot while her dress isn’t ready yet and her man is stuck at traffic jam somewhere at Jalan Sudirman.

Beautiful as a girl who reminds me to Rahne Putri. PS. Rahne is omnipresent so please keep your objection for yourselves!

Beautiful as a girl who is going to win this goddamn contest!!!!
That’s all, minions. Which one is your pick? Tell us.
Disclosure: This blog post is pure midnight mischief. I am not endorsed whatsoever by the brand to do this.
Attachment is a bitch. — [Farida Susanty]
…we’re all whores when it comes to sex. some people just ask for the cash upfront. — [Thought Catalog]
If everything is measured the same then everything will look the same. — [John Hegarty]
Tiba-tiba kepikiran dan ngetwit ginian. Muahahaha, silakan dibaca kalo minat :P
1) Regular tweets. Biasanya tentang daily life yang ngetwit. “Lapeeeer!”, “Good morning”, “Yak, pemadaman bergilir lagi”, ini beberapa contoh. 83% konten jenis ini berupa regular tweets tadi. Kok bisa? Kan tuiter itu tentang “What’s happening?”. Oya, Anda ga harus percaya sama angka tsb.
2) Kultwit. Berseri, bertopik, menambah pengetahuan. Nuffsaid.
3) Kuis berhadiah. Biasanya dibikin sama akun brands dan pake hashtag spesifik. Hadiahnya macem², dari vocer sampe iPad. Tapi sering juga kuis berhadiah ini dibikin sama akun pribadi, penulis buku misalnya. Saya pernah menang sekali.
4) Twitter games. Permainan twit murni untuk fun, tanpa hadiah, tanpa sponsor. Seringkali pake hashtag. Biasanya yang memulai twitter games ini para thought leaders. Seringkali efeknya viral. Kebetulan saya dulu pernah mengarsip jenis twitt ini di blog ini.
5) Quotes, wisdom, & such. Ada 107 dedicated accounts yang ngurusin quote²an. Kalo wisdom, biasanya dari akun pribadi. Wisdom ini ada banyak jenis; ada yang wisdom beneran, ada wisdom bangke, ada wisdom²an.
“If loving you is wrong, I don’t wanna be right” -Isaac Newton « ini contoh quote.
“Ketika kau merasa dunia memandang rendah kepadamu, carilah meteran dan ukur tinggimu” « ini contoh wisdom.
6) Lowongan pekerjaan. Banyak lho sekarang yang posting lowker via tuiter. Technology should make life easier, right?
7) Berita. Segala macem berita ada di timeline! Dari retwitan akun portal berita resmi, sampe berita yang belum naik ke meja redaksi.
8) Ababil’s stuffs. Dari #openfollow, #janjifolbek, sampe “DIKAWINI BIEBER ato DIGAMPAR JONAS”. Biasalah, (mayoritas) abege. Populasinya banyak pula!
9) Community projects. Mulai yang serius sampe yang pure fun. #shoeboxproject, #30HariInstagram, #30HariAvatarBerponi, to name a few.
10) Twitpic foto makanan. Akhir² ini udah jarang sih. Photo apps bring poto² ginian to a whole new level. Instagram, Vignette, etc.

11) Link mencurigakan. Biasanya ditwit oleh bot bule yang nyamber twit kita. Hati², jangan diklik!
12) Hoax. Nah, kadang² ada aja nih twit ga jelas yang menyebar tapi kebenaran beritanya ga bisa dipertanggungjawabkan.
13) #fiksimini dan #anjinggombal. No further explanation lah ya.
14) Twitwar. Dua orang adu mulut lewat twit. 12.063 yang lain nyorakin.
15) Promo. Bisa berupa promo barang, events (konser, seminar), sampe diri sendiri. Khusus yang ketiga, biasanya pake PIN blekberi.
16) Twit selain 15 yang tadi. Gegalauan, #nomention, sampe isi lagu yang diputer. We are paying attention, darlings.
17) Kritik dan nyinyiran. Nah, ini yang agak tricky buat bedainnya. Kalo ditujukan kepada pemerintah dan SBY, itu namanya kritik. Selain itu, nyinyir. Kalo ditwit oleh tuips yang politically literate, itu kritik. Tapi kalo ditwit oleh @nisankubur dan temen²nya, pasti nyinyiran.
18) Twit colongan. Copas tanpa ijin/credit dari ke-17 jenis konten di atas.
* Tambahan:
19) Retwitan akun horoskop. Yes, we all know Leo hate bad sex.
20) Jawaban akun soal-soalan. Contoh: ini dan ini, sisanya masih banyak.
Don’t be so quick to judge me because you only see what I choose to show. — [@kevjenggo]